Jumat, 15 Maret 2013

Melewati Batas Reportase


Saya sedang mengerjakan sebuah projek buku, berisi tulisan-tulisan feature yang menurut saya berarti dalam sepuluh tahun perjalanan saya menjadi wartawan. Tadinya saya pikir membuat buku ini akan mudah: tinggal mengumpulkan tulisan yang ada dan membukukannya. Ternyata saya salah.
Saat mengumpulkan tulisan dan memilih untuk mana yang cukup layak untuk dimasukkan ke dalam buku, saya sudah kesulitan. Ada ratusan tulisan yang ada di folder komputer saya. Saya harus membacanya satu per satu.
Setelah saya baca kembali setiap tulisan itu, ingatan saya dibawa kembali pada bagaimana setiap tulisan itu dibuat. Setiap tulisan memiliki kenangannnya sendiri-sendiri, dan yang pasti proses penulisannya panjang. Ada tulisan yang memang saya rencanakan, dan saya gali sendiri. Ada juga tulisan yang prosesnya seakan-akan tiba-tiba. Untuk yang terakhir itu, faktor keberuntungan memainkan peran yang lebih besar.
Setelah memilih sepuluh tulisan, ide saya untuk buku kumpulan tulisan itu berubah lagi. Saya tidak ingin buku kumpulan tulisan itu hanya menjadi semacam kliping berita koran saja. Saya ingin membuatnya menjadi lebih personal, memasukkan pengalaman pribadi saya di dalam setiap tulisan itu, yang tidak dapat saya masukkan dalam edisi yang terbit di koran.
Dan itu artinya, saya harus menulis ulang setiap tulisan itu. Saya harus membuka-buka kembali catatan-catatan yang ada, menggali ingatan untuk setiap detil peristiwanya, membongkar tulisan versi awal, dan menulisnya kembali menjadi bentuk yang benar-benar baru, dan jauh lebih panjang.
Sebagai contoh, untuk sebuah cerita tentang perjalanan saya melaut bersama nelayan di Santolo, Garut selatan, versi yang pernah terbit secara serial di Pikiran Rakyat pada 2003 hanya sepanjang 6 halaman A4 atau 2.351 kata. Setelah ditulis ulang secara lebih personal, tulisan itu berkembang menjadi 25 halaman A4 atau 7.352 kata. Saya tidak tahu akan menghabiskan berapa halaman tulisan itu ketika dituangkan dalam format buku.
Jika setiap tulisan yang telah saya tulis ulang rata-rata sepanjang 25 halaman A4, maka 10 tulisan akan menghabiskan 250 halaman A4. Jika dituangkan dalam format buku, setidaknya akan menghabiskan sekitar 300-350 halaman. Ini mungkin akan jadi persoalan, terutama dalam hal biaya cetak, jika buku itu saya terbitkan secara independen.
Tetapi saya tidak ingin memikirkan biaya produksi buku itu. Saat ini saya hanya ingin menyelesaikan proses penulisannya dulu. Jika sudah selesai, baru akan saya pikirkan biaya produksinya. Mudah-mudahan saja ada rejeki lebih.
Itu baru persoalan teknis. Persoalan berikutnya, bagaimana saya akan menyebut isi buku itu, apakah kumpulan karya jurnalistik, atau sebuah jurnal personal?
Dengan cara penulisan yang sangat personal, termasuk didalamnya menuliskan “kehadiran dan keterlibatan” saya di dalam liputan itu, saya pikir akan banyak orang yang keberatan jika saya menyebutnya sebagai kumpulan karya jurnalistik. Sebab, di Indonesia cara menulis seperti itu masih dianggap tidak lazim. Sepanjang yang saya rasakan dan saya ketahui, di Indonesia penulisan karya jurnalistik seakan-akan harus selalu parsial, selalu ada jarak antara penulis dengan yang ditulis.
Sedangkan di luar negeri, misalnya jurnalis-jurnalis Amerika Serikat, tampaknya sudah terbiasa dengan cara penulisan yang personal, dengan hadirnya kata “saya” di dalam setiap tulisan mereka. Kalau boleh saya ambil contoh cara penulisan seperti itu dilakukan oleh Sebastian Junger, seperti terbaca di dalam buku kumpulan tulisannya yang berjudul “Fire”, atau juga Hunter S. Thomson dalam buku “Hell’s Angels”
Tetapi setelah dipikir lebih jauh lagi, kenapa juga saya harus memikirkan apakah karya-karya saya di dalam buku itu nanti akan dikategorikan sebagai laporan jurnalistik atau bukan. Itu bukan urusan saya, karena urusan saya adalah menulisnya dengan benar, dan menampilkan sisi menarik (atau mungkin juga penting) dari setiap tulisan.
Lalu apa pentingnya buku kumpulan tulisan itu diterbitkan? Ini pertanyaan yang agak tricky.
Secara pribadi, sebenarnya saya hanya ingin mendokumentasikan karya-karya yang menurut saya cukup berarti, sebagai catatan pribadi saya, dan mungkin juga akan berguna bagi orang lain, jika mereka ingin mengetahui sekelumit hidup manusia di suatu daerah tertentu, dalam konteks dan kurun waktu tertentu. Alasan lainnya, saya ingin mencoba sebuah gaya penulisan yang relatif baru (jika dilihat dari sudut pandang jurnalisme secara umum di Indonesia), dan barangkali gaya penulisan itu akan menjadi bahan diskusi untuk pengembangan gaya penulisan jurnalistik di Indonesia.
Tetapi setelah dipikir-pikir, alasan yang kedua itu terdengar terlalu “belagu”. Karena toh gaya penulisan yang personal seperti itu sudah dilakukan oleh para pionir jurnalisme Indonesia sejak dulu, setidaknya yang saya tahu sejak era 1950-an. Misalnya, yang dilakukan oleh Misbach  Yusa Biran dalam buku “Keajaiban di Pasar Senen”, juga oleh Mochtar Lubis dalam buku “Perang Korea”.
Jadi alasan yang pertama yang mungkin lebih dapat diterima. Dan alasan kedua lebih baik diludahi saja.
Terlepas dari ide membuat buku kumpulan tulisan itu, saya memang selalu terpesona oleh karya-karya jurnalis yang sifatnya personal. Saya sangat menyukai “Keajaiban di Pasar Senen”, “Perang Korea”, juga “Fire” dan “Hell’s Angels”. Menurut saya, dengan gaya penulisan yang personal, penulisnya memberi ruang yang cukup luas untuk menggambarkan kenyataan liputannya secara utuh. Bukan sekadar hal-hal yang dianggap “penting” dan “serius” saja yang dimasukkan ke dalam tulisannya, tetapi juga ada ruang yang luas untuk mengungkapkan kekonyolan, juga komedi dari kehidupan manusia yang mereka liput.
Ruang untuk hal-hal itu --yang mungkin akan dianggap tidak penting oleh kritikus dan pemerhati jurnalisme—menurut saya justru penting, karena akan memudahkan pembaca untuk melihat fakta secara lebih utuh, dan membuat tulisan itu menjadi semakin dekat dengan “kebenaran”. Posisi sang penulis yang juga disebut (bahkan mungkin ikut memainkan peran) di dalam karya-karya seperti itu, juga membuat pembaca dapat lebih jelas melihat bagaimana proses liputan itu berlangsung. Menurut saya, itu adalah bagian dari upaya penulis untuk lebih jujur dalam mengungkapkan proses liputannya.
Belakangan, banyak orang mengkategorikan karya seperti itu sebagai bagian dari “genre” immersion journalism, sebuah kegiatan jurnalistik di mana jurnalisnya terlibat (immerse) dalam peristiwa yang dia liput. Tetapi bagi saya saat ini, penciptaan istilah-istilah semacam itu hanyalah upaya pengkotak-kotakan, dan mencari definisi-definisi, yang malah tidak jelas juntrungannya.
Secara sederhana, saya melihat setiap upaya untuk mengembangkan gaya dan cara peliputan dan penulisan, adalah upaya sebagian jurnalis untuk menembus batas-batas aturan jurnalisme, yang seringkali diterjemahkan begitu kaku dan dibuat mengikat. Dan menurut saya, karya-karya mereka yang mau dan mampu menembus batas itu, justru luar biasa menarik, dan penting untuk dibaca oleh setiap generasi. Para penulisnya pun tidak sibuk mengkotak-kotakan atau mendefinisikan apa yang telah mereka lakukan. Itulah tahap di mana seorang jurnalis merdeka dalam meliput dan menulis.
Sedangkan untuk saya sendiri, saat ini saya masih terus berupaya menyelesaikan tulisan-tulisan itu. Mungkin satu atau dua tulisan yang sudah selesai saya tulis, akan saya bagi di blog ini.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar