Jumat, 24 April 2015

Anda

Suatu hari saya bertemu seorang mantan wartawan yang sudah sepuh. Dalam obrolan kami, dia mengeluhkan sikap para wartawan muda yang menurut dia tidak lagi mempedulikan sopan santun saat mewawancarai narasumber. "Coba bayangkan, sekarang anak-anak muda itu berani-beraninya bertanya kepada seorang pejabat dengan menggunakan kata 'anda'," kata wartawan sepuh itu.
Saya tanya, "Memangnya apa yang salah dengan kata 'anda'?"

Dia menjawab, "Itu tidak sopan, seharusnya wartawan-wartawan muda itu bertanya dengan menggunakan kata 'Bapak' atau 'Ibu'. Para narasumber itu kan lebih tua umurnya dari wartawan-wartawan itu."

Keluhan semacam itu, bukan dari dia saja yang pernah saya dengar. Beberapa orang, yang biasanya berusia di atas lima puluh tahun, sering mengeluhkan penggunaan kata "anda" oleh anak muda saat bertanya kepada orang yang lebih tua, atau kepada orang memiliki jabatan tinggi. Bahkan kabarnya, ada juga dosen yang tersinggung oleh mahasiswa yang menggunakan kata "anda" saat bertanya kepada dosen itu.

Saya tidak tahu kenapa ada orang-orang yang tersinggung saat ditanya dengan menggunakan kata "Anda". Karena kata "Anda" secara harfiah berarti "yang mulia" atau "yang terhormat".

Rosihan Anwar, di dalam bukunya "Bahasa Jurnalistik dan Komposisi" (cetakan keempat, 1991, hal. 10-12) memaparkan, kata "Anda" diperkenalkan ke dalam khazanah bahasa Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan unsur aristokrasi feodal dalam cara berbahasa orang Indonesia. Rosihan Anwar sendiri mengutip argumen Sutan Takdir Alisjahbana yang menulis di bukunya "Indonesia in the Modern World" (New Delhi, 1961), bahwa kata "anda" diharapkan dapat menjadi kata ganti orang kedua yang serupa dengan "you" di dalam bahasa Inggris.

Lalu siapa yang menemukan, atau lebih tepatnya memperkenalkan kata "anda" ke dalam bahasa Indonesia?

Yang memperkenalkan kata "anda" ke dalam bahasa baku Indonesia, adalah seorang kapten Angkatan Udara Republik Indonesia, bernama Sabirin. Dia menggali kata "anda" dari Kamus Modern Bahasa Indonesia yang disusun oleh Sutan Mohamad Zain.

Sebelum memperkenalkan kata "anda" Sabirin berkonsultasi dengan Sutan Mohamad Zain, yang kemudian setuju "anda" dipakai sebagai kata ganti orang kedua yang sama dengan "you". Sutan Mohamad Zain menjelaskan, kata "anda" awalnya terdiri dari satu kata saja, yaitu "ra" dari bahasa Kawi yang berarti "yang mulia". Dalam perkembangannya, kata "ra" berubah menjadi "da". Satu suku kata itu di masa kemudian diberi awalan "an", sehingga penyebutannya menjadi "anda".

Lalu kapan kata "anda" pertama kali digunakan secara tertulis sebagai bahasa media massa?

Rosihan Anwar mencatat, "...kata anda itu diperkenalkan pertama kali dalam harian Pedoman, Kemis [sic] tanggal 28 Februari 1957."

Penggunaan kata "anda" oleh Pedoman, bukannya tanpa tentangan. Pesaing Pedoman, Harian Rakyat, yang berhaluan komunis menentang penggunaan kata "anda" dan mengajukan tandingannya, yaitu kata "andika". Tetapi, tulis Rosihan Anwar, kata "andika" tidak pernah mendapat pasaran, dan yang laku akhirnya ialah kata "anda".

Kemudian, Sutan Takdir Alisjahbana menyatakan, "Makna hakiki kata anda ialah 'pendemokrasian dalam kata ganti'. Mempopularkan kata anda berarti juga membantu tumbuhnya masyarakat Indonesia yang demokratis." Sutan Takdir Alisjahbana mengusulkan kata "anda" ditulis secara seragam dengan huruf awal kapital. Tujuannya? "Untuk mencegah perasaan feodal masuk pula, yaitu kepada orang tinggi dipakai huruf besar, kepada yang rendah dipakai huruf kecil," demikian Sutan Takdir Alisjahbana dalam Pedoman Minggu, 14 April 1957.

Jadi, bapak, ibu, tuan, nyonya sekalian, tidak perlulah kita merasa tersinggung ketika dipanggil dengan kata "anda" oleh anak muda. Karena kalau merasa tersinggung, berarti bapak, ibu, tuan dan nyonya sekalian masih bermental feodal, berjiwa priyayi, dan mengkastakan manusia.

Zaky Yamani, 22 Mei 2013

Kesaksian Tom Joad yang Menitip Mati

Now Tom said, "Mom, wherever there's a cop beatin' a guy, wherever a hungry newborn baby cries, where there's a fight 'gainst the blood and hatred in the air, look for me Mom I'll be there

-bagian lirik “The Ghost of Tom Joad”, ditulis dan dinyanyikan oleh Bruce Springsteen-

Saya mengenal bagian lirik itu awalnya bukan karena mendengar Bruce Springsteen bernyanyi. Saya mendengarnya dari nyanyian (atau lebih tepatnya orasi) Zack de la Rocha, vokalis Rage Against the Machine. Tadinya saya berpikir lirik ituditulis Zack, karena saya terbiasa membaca syair-syair politis yang dia tulis. Saya kaget ketika akhirnya mengetahui lagu The Ghost of Tom Joad ternyata milik Bruce Springsteen. “Bisa ya orang setua itu menulis lirik sekuat ini?” pikir saya. Tentu saja itu pertanyaan bodoh, dari orang yang tidak mengenal karya-karya Bruce.

Kemudian saya penasaran, siapa sebenarnya Tom Joad? Apakah dia semacam pejuang kemanusiaan dari Amerika? Apakah dia sosok seperti MartinLuther King, Jr., atau Malcolm X, atau Mumia Abu Jamal?

Ternyata Tom Joad adalah tokoh fiksi. Dia tokoh di dalam novel John Steinbeck “Grapes of Wrath”. Novel itu mengisahkan perjalanan Tom Joad dan keluarganya dari Oklahoma ke California. Tom diceritakan sebagai orang yang dipaksa miskin, di masa depresi ekonomi Amerika. Tom yang baru keluar dari penjara menyaksikan keluarganya diusir dari lahan pertanian mereka.  Lalu dia memutuskan untuk menolong, walau harus melawan hukum lagi.

Walau tokoh fiksi, ide dan aksi Tom Joad cukup berpengaruh bagi kalangan muda Amerika. Nama Tom Joad menjadi ikon dalam gerakan protes untuk keadilan sosial. Ini bagian dari ucapan Tom Joad dalam novel “Grapes ofWrath” yang mungkin disadur oleh Bruce Springsteen menjadi bagian lirik “TheGhost of Tom Joad”:

Then it don’ matter. Then I’ll be all aroun’ in the dark. I’ll be ever’where- wherever you look. Wherever they’s a fight so hungry people can eat, I’ll be there. Wherever they’s a cop beatin’ up a guy, I’ll be there. If Casy knowed, why, I’ll be in the way guys yell when they’re mad an’- I’ll be in the way kids laugh when they’re hungry an’ they know supper’s ready. An’ when our folks eat the stuff they raise an’ live in the houses they build- why, I’ll be there. See? God, I’m talkin’ like Casy. Comes of thinkin’ about him so much.Seems like I can see him sometimes.

Jauh sebelum Bruce Springsteen menulis “The Ghost of Tom Joad”,musisi balada Woody Guhtrie yang namanya terkenal di tahun 1950-1960-an, menulis lagu yang terinspirasi karya Steinbeck , judulnya “The Ballad of Tom Joad”. Baik Springsteen maupun Guthrie, menyanyikan kisah Tom Joaddengan syahdu. Tetapi “The Ghost of Tom Joad” dinyanyikan oleh Zack de la Rocha dengan amarah.

Dia seperti sedang berpidato dengan latar hentakan alat musik elektronik. Tetapi dengan gaya bernyanyi dan musik latar yang seperti itu, kisah Tom Joad dapat dibawa ke masa kini, ke dalam gaya protes anak muda jaman sekarang. Saya lebih tergugah mendengar gaya bernyanyi Zack, dibandingkan cara Springsteen membawakannya. Misalnya di bagian ini:

Now Tom said"Mom, wherever there's a cop beatin' a guy, wherever a hungry newborn baby cries, where there's a fight 'gainst the blood and hatred in the air, look for me Mom I'll be there
Wherever there's somebody fightin' for a place to stand or decent job or a helpin' hand, wherever somebody's strugglin' to be free, look in their eyes Mom you'll see me."

Zack menyanyikan bagian lirik di atas seperti orang yang bersumpah dengan amarah di dadanya. Sekaligus juga seperti orang yang dengan bangga berjanji kepadanya ibunya, bahwa pilihan hidupnya untuk melawan ketidakadilan adalah jalan yang hidup yang paling tepat.

Bagi saya, lirik lagu yang sekuat “The Ghost of Tom Joad” ada bandingannya dalam khazanah lagu Indonesia, yaitu “Kesaksian” yang dinyanyikan Iwan Fals. Mungkin akan menarik, jika suatu hari ada yangmembawakan “Kesaksian” dengan amarah, seperti Zack de la Rocha membawakan “The Ghost of Tom Joad”.

Sayang, di Indonesia sangat jarang musisi Indonesia yang mengambil referensi menulis liriknya dari karya-karya prosa negeri sendiri. Juga jarang ada musisi mainstream Indonesia yang memiliki kemampuan menulis lirik yang kuat, yang dapat memberi pasokan energi pada sebuah gerakan protes.

Sedikit musisi yang memiliki kemampuan itu, memilih tidak muncul ke wilayah mainstream. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Mukti-Mukti. Bagi saya lagu Mukti yang berjudul “Revolution Is (Menitip Mati)” terasa sama kuatnya dengan “Kesaksian” dari Iwan Fals, “The Ghost of Tom Joad”dari Bruce Springsteen, dan “A Hard Rains-a-Gonna Fall” milik Bob Dylan. Lagu itu selalu menjadi pengingat bagaimana saya seharusnya melihat kehidupan.

Zaky Yamani

Laci Tukang Cukur

Sudah 20 tahun saya selalu memangkas rambut di tempat pangkas rambut "Sesuai". Lokasinya sekitar 300 meter arah utara simpang Dago. Saya setia memangkas rambut di "Sesuai", bukan karena di tempat cukur itu rambut saya bisa dibuat bergaya macam-macam. Karena gaya rambut saya sejak kelas 2 SMA selalu sama, dipotong sampai hanya tersisa satu atau dua sentimeter.

Tentu saja saya tidak akan datang lagi ke "Sesuai" jika tukang cukurnya senang bereksperimen tanpa persetujuan pelanggan. Omong-omong tentang tukang cukur yang bereksperimen dengan rambut pelanggannya, saya teringat salah satu kisah yang diceritakan Misbach Yusa Biran dalam buku "Keajaiban di Pasar Senen" (KPG, 2008).

Diceritakan di buku itu, ada seorang tukang cukur di Pasar Senen yang tiba-tiba ingin menjadi seniman. Lalu dia cuti dari kegiatan memangkas rambut, dan bergaul dengan seniman. Satu waktu dia kembali menjadi tukang cukur, namun sikapnya berubah. Wajahnya tampak lebih serius dan ekspresif. Lalu dia mengekspresikan hasrat berkeseniannya kepada rambut pelanggan. Penulis buku itu yang menjadi objek percobaan pertamanya, dan hasilnya sang penulis diputuskan oleh pacarnya, karena gaya rambutnya tak karuan.

Kembali ke kisah "Sesuai", saya betah bercukur di sana karena keakraban bersama para tukang cukurnya. Dan di sana saya tidak hanya dicukur, tetapi juga berbincang tentang banyak hal, termasuk mendapatkan informasi tentang kawan-kawan lama, yang juga menjadi langganan "Sesuai" sejak 20 tahun lalu.

Baru belakangan saya pahami, tempat langganan kita, apakah itu tukang cukur atau kedai kopi, seringkali bermakna lebih dari apa yang mereka kerjakan secara profesional. Tempat kita bercukur atau mengopi memberikan keakraban, kenangan, informasi tentang kerabat atau kawan lama, dan banyak kisah.

Tempat pangkas rambut langganan sebenarnya juga laci, tempat kita-para pelanggannya-menyimpan sejarah dan kisah, yang bisa kita buka kapan pun kita mau, apakah sekadar untuk melihat kembali sejarah yang kita simpan, atau untuk mendapatkan cerita tentang orang-orang dekat yang juga menyimpan sejarah dan kisahnya di laci itu. Para tukang cukur itulah yang menjadi petugas arsipnya: mendengar, menyimpan, menata, dan menyediakannya untuk pelanggan.

Menyebut profesi tukang cukur, orang Garut jagonya. Keahlian memangkas rambut adalah warisan turun-temurun orang Garut, terutama di wilayah Kecamatan Banyuresmi dan sekitarnya. Penelitian tentang mencukur rambut sebagai profesi turun-temurun orang Banyuresmi itu ditulis oleh Iswari, dkk (2007), dan dikutip oleh Mumuh Muhsin Z, dkk,  dalam "Inventarisasi dan Dokumentasi Sistem Mata Pencaharian yang Hidup dan Berkembang di Jawa Barat" (2012).

Disebutkan di dalam penelitian itu, keahlian mencukur diwariskan di dalam keluarga, di mana orang yang sudah ahli mengajarkan keahliannya kepada juniornya. Mereka latihan dengan mencukur rambut anggota keluarga. Junior baru dianggap mahir jika bisa menggunting rambut dengan rapi menggunakan gunting keuyeup atau catok gitek.

Para tukang cukur yang sudah ahli itu kemudian membuka usaha, secara bersama-sama, atau merintis sendiri. Mereka pun menyebar ke berbagai kota. Jika satu atau dua orang sudah cukup mapan, dia akan mengajak kerabat atau kawannya untuk bergabung dalam satu tempat pangkas rambut. Dengan jalur kekerabatan itu mereka menyebar ke berbagai kota dan mengembangkan usahanya.

Tidak ada data yang pasti sejak kapan tukang cukur dari Garut menyebar ke kota-kota lain. Tetapi diyakini, setidaknya sejak 1950-an para tukang cukur dari Garut sudah membuka praktik di Jakarta dan kota lainnya.

Para tukang cukur di "Sesuai" juga berasal dari Garut. Saya pernah tinggal beberapa lama di Garut, dan tidak dapat menghindar dari stereotipe tentang orang Garut. Dalam pandangan saya, orang Garut adalah orang yang senang mengobrol, cepat akrab, dan mengundang orang untuk berbicara atau bercerita.

Jika stereotipe itu benar, maka itu menjadi nilai tambah bagi profesi tukang cukur. Seperti saya tulis di atas, kita berlangganan tukang cukur bukan karena hasil cukurannya saja, tetapi juga karena kita bisa menyimpan atau mengambil sesuatu dari laci sejarah di tempat itu.***



Zaky Yamani, Redaktur di Pikiran Rakyat

Catatan ini terbit di rubrik Fokus, Pikiran Rakyat Minggu, 23 Maret 2014